Kamis, September 10, 2009
Senator: Obama Harus Kirim Tentara Tambahan ke Afganistan
Berita Dunia,Washington- Amerika Serikat memunyai siasat baru perang Afganistan, yang akan "mengubah arah", melawan Taliban, tapi memerlukan lebih banyak tentara untuk bergabung dalam kemelut delapan tahun itu, kata senator Amerika Serikat pada Selasa.
"Saya merasa sangat kuat, dari sana pada Agustus, bahwa kami mengerti bagaimana mengubah arah untuk menguntungkan kami dan rakyat Afganistan, serta melawan Taliban," kata senator mandiri Joseph Lieberman.
"Itu memerlukan lebih banyak orang --tentara dan warga-- serta lebih cepat kami melakukannya, lebih cepat rakyat Afganistan dapat mengambilalih dan Amerika Serikat dan sekutu kami akan pulang," katanya kepada wartawan.
Lieberman menyatakan memperkirakan panglima tertinggi Amerika Serikat di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, minta Presiden Barack Obama meningkatkan jumlah tentara Amerika Serikat, yang melancarkan upaya itu, yang semakin tak disukai.
"Pertanyaan ialah, maukah Jenderal McChrystal meminta tambahan tentara? Saya percaya jawabannya adalah ya," kata Lieberman, yang memperkirakan terjadi "perbantahan sehat dan penting" tentang siasat Amerika Serikat itu.
"Kami mendekati keputusan atas Afganistan, titik balik lain," kata Lieberman, yang memuji "kepemimpinan menentukan" Obama atas Afganistan.
"Ia percaya Afganistan adalah pusat medan perang melawan terorisme, tempat untuk menyerang kita pada 11 September. Kami tidak bisa membiarkan Taliban kembali berkuasa di sana," tambah pembuat undang-undang asal Connecticut itu.
Jajak pendapat di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa sebagian besar menganggap perang itu tak bernilai, sementara beberapa sekutu Obama dari Demokrat sudah meletakkan patok banding untuk keberhasilan atau bahkan jadwal penarikan.
Sejumlah 820 tentara Amerika Serikat tewas di negara terkoyak perang itu sejak serbuan pimpinannya pada 2001 untuk menggulingkan pemerintah Taliban.
Tahun ini menelan korban terbanyak selama delapan tahun perang di Afganistan, saat tentara tambahan dikirimkan ke wilayah panas Taliban di selatan dan timur.
Untuk menanggapinya, Taliban melakukan siasat lebih waspada dikaitkan dengan teroris dan bahkan mundur dari medan pertempuran, kata pemimpin tentara.
Bom buatan menjadi hantu bagi tentara asing, yang kini berjumlah lebih dari 100.000 di bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi perlawanan, yang dikobarkan sisa Taliban.
Bom buatan dinyatakan terbanyak menimbulkan 70-80 persen kematian, baik di kalangan tentara maupun penduduk.
Tentara asing berperang di Afghanistan mengalami bulan paling mematikan sejak serbuan 2001 pada Agustus saat 77 anggotanya tewas, kata laman mandiri pemantau korban di kalangan tentara pada Selasa.
Icasualties.org menyatakan ke-77 kematian itu terjadi setelah 76 yang tewas pada Juli, yang sebelumnya menjadi bulan paling berdarah bagi tentara asing di Afghanistan.
Taliban, yang memerintah Afganistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Alqaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah negara adidaya itu, yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom jalanan dan serangan jibaku untuk melawan pemerintah Afganistan dan pasukan asing di negara terkoyak perang tersebut.(www.antaranews.com)
"Saya merasa sangat kuat, dari sana pada Agustus, bahwa kami mengerti bagaimana mengubah arah untuk menguntungkan kami dan rakyat Afganistan, serta melawan Taliban," kata senator mandiri Joseph Lieberman.
"Itu memerlukan lebih banyak orang --tentara dan warga-- serta lebih cepat kami melakukannya, lebih cepat rakyat Afganistan dapat mengambilalih dan Amerika Serikat dan sekutu kami akan pulang," katanya kepada wartawan.
Lieberman menyatakan memperkirakan panglima tertinggi Amerika Serikat di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, minta Presiden Barack Obama meningkatkan jumlah tentara Amerika Serikat, yang melancarkan upaya itu, yang semakin tak disukai.
"Pertanyaan ialah, maukah Jenderal McChrystal meminta tambahan tentara? Saya percaya jawabannya adalah ya," kata Lieberman, yang memperkirakan terjadi "perbantahan sehat dan penting" tentang siasat Amerika Serikat itu.
"Kami mendekati keputusan atas Afganistan, titik balik lain," kata Lieberman, yang memuji "kepemimpinan menentukan" Obama atas Afganistan.
"Ia percaya Afganistan adalah pusat medan perang melawan terorisme, tempat untuk menyerang kita pada 11 September. Kami tidak bisa membiarkan Taliban kembali berkuasa di sana," tambah pembuat undang-undang asal Connecticut itu.
Jajak pendapat di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa sebagian besar menganggap perang itu tak bernilai, sementara beberapa sekutu Obama dari Demokrat sudah meletakkan patok banding untuk keberhasilan atau bahkan jadwal penarikan.
Sejumlah 820 tentara Amerika Serikat tewas di negara terkoyak perang itu sejak serbuan pimpinannya pada 2001 untuk menggulingkan pemerintah Taliban.
Tahun ini menelan korban terbanyak selama delapan tahun perang di Afganistan, saat tentara tambahan dikirimkan ke wilayah panas Taliban di selatan dan timur.
Untuk menanggapinya, Taliban melakukan siasat lebih waspada dikaitkan dengan teroris dan bahkan mundur dari medan pertempuran, kata pemimpin tentara.
Bom buatan menjadi hantu bagi tentara asing, yang kini berjumlah lebih dari 100.000 di bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi perlawanan, yang dikobarkan sisa Taliban.
Bom buatan dinyatakan terbanyak menimbulkan 70-80 persen kematian, baik di kalangan tentara maupun penduduk.
Tentara asing berperang di Afghanistan mengalami bulan paling mematikan sejak serbuan 2001 pada Agustus saat 77 anggotanya tewas, kata laman mandiri pemantau korban di kalangan tentara pada Selasa.
Icasualties.org menyatakan ke-77 kematian itu terjadi setelah 76 yang tewas pada Juli, yang sebelumnya menjadi bulan paling berdarah bagi tentara asing di Afghanistan.
Taliban, yang memerintah Afganistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Alqaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah negara adidaya itu, yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom jalanan dan serangan jibaku untuk melawan pemerintah Afganistan dan pasukan asing di negara terkoyak perang tersebut.(www.antaranews.com)
2 Tewas Dalam Serangan Bom di Luar Pangkalan NATO di Afghanistan
Berita Dunia,Kabul- Seorang pria melancarkan serangan bom bunuh diri di luar pangkalan NATO di Afghanistan, Rabu, menewaskan sedikitnya dua warga sipil setempat dan mencederai sejumlah prajurit asing dan lokal.
Pemboman itu merupakan serangan terakhir terhadap sebuah pangkalan militer internasional di Afghanistan, dimana pemberontakan Taliban sedang memuncak.
Seorang pria meledakkan rompi bom ketika ia berada di antara supir-supir truk sipil di luar Camp Bastion, sebuah pangkalan utama Inggris di provinsi Helmand, Afghanistan selatan, kata Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO.
"Sedikitnya dua warga sipil Afghanistan tewas, dan sejumlah personel ISAF serta warga sipil Afghanistan cedera ketika seorang penyerang bom bunuh diri meledakkan rompi bom di dekat pintu gerbang Camp Bastion," kata ISAF dalam sebuah pernyataan.
"Jumlah warga sipil yang tewas dan cedera belum bisa dikonfirmasi karena penyelidikan masih dilakukan," katanya.
Selasa, bom mobil bunuh diri meledak di luar pintu gerbang bandara militer ISAF di Kabul, menewaskan tiga warga sipil dan mencederai sembilan orang, termasuk empat prajurit asing.
Serangan lain yang ditujukan pada koalisi pimpinan NATO bulan lalu di ibukota Afghanistan itu mengenai markas ISAF, menewaskan tujuh orang.
Terdapat sekitar 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.
Lebih dari 300 prajurit asing tewas sejak Januari, yang menjadikan 2009 sebagai tahun paling mematikan untuk pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.
Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni tahun lalu, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.
Antara 8.000 dan 10.000 prajurit internasional bergabung dengan pasukan militer pimpinan NATO yang mencakup sekitar 60.000 personel di Afghanistan untuk mengamankan pemilihan presiden Afghanistan pada 20 Agustus, kata aliansi itu.
Pemilu yang menetapkan presiden dan dewan provinsi itu dipandang sebagai ujian bagi upaya internasional untuk membantu menciptakan demokrasi di Afghanistan, namun pemungutan suara tersebut dilakukan ketika kekerasan yang dipimpin Taliban mencapai tingkat tertinggi.
Sekitar 300.000 prajurit Afghanistan dan asing mengambil bagian dalam pengamanan pemilu tersebut.(www.antaranews.com)
Pemboman itu merupakan serangan terakhir terhadap sebuah pangkalan militer internasional di Afghanistan, dimana pemberontakan Taliban sedang memuncak.
Seorang pria meledakkan rompi bom ketika ia berada di antara supir-supir truk sipil di luar Camp Bastion, sebuah pangkalan utama Inggris di provinsi Helmand, Afghanistan selatan, kata Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO.
"Sedikitnya dua warga sipil Afghanistan tewas, dan sejumlah personel ISAF serta warga sipil Afghanistan cedera ketika seorang penyerang bom bunuh diri meledakkan rompi bom di dekat pintu gerbang Camp Bastion," kata ISAF dalam sebuah pernyataan.
"Jumlah warga sipil yang tewas dan cedera belum bisa dikonfirmasi karena penyelidikan masih dilakukan," katanya.
Selasa, bom mobil bunuh diri meledak di luar pintu gerbang bandara militer ISAF di Kabul, menewaskan tiga warga sipil dan mencederai sembilan orang, termasuk empat prajurit asing.
Serangan lain yang ditujukan pada koalisi pimpinan NATO bulan lalu di ibukota Afghanistan itu mengenai markas ISAF, menewaskan tujuh orang.
Terdapat sekitar 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.
Lebih dari 300 prajurit asing tewas sejak Januari, yang menjadikan 2009 sebagai tahun paling mematikan untuk pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.
Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni tahun lalu, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.
Antara 8.000 dan 10.000 prajurit internasional bergabung dengan pasukan militer pimpinan NATO yang mencakup sekitar 60.000 personel di Afghanistan untuk mengamankan pemilihan presiden Afghanistan pada 20 Agustus, kata aliansi itu.
Pemilu yang menetapkan presiden dan dewan provinsi itu dipandang sebagai ujian bagi upaya internasional untuk membantu menciptakan demokrasi di Afghanistan, namun pemungutan suara tersebut dilakukan ketika kekerasan yang dipimpin Taliban mencapai tingkat tertinggi.
Sekitar 300.000 prajurit Afghanistan dan asing mengambil bagian dalam pengamanan pemilu tersebut.(www.antaranews.com)
Selasa, September 08, 2009
Densus: Penangkapan dan Penahanan Jibril Sah
Berita Dunia,Jakarta - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menyatakan bahwa penangkapan dan penahanan terhadap Muhammad Jibril Abdul Rahman adalah sah.
"Menolak permohonan praperadilan dari pemohon (orang tua Muhammad Jibril Abdul Rahman) untuk seluruhnya," kata kuasa hukum Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Iza Fadri, dalam sidang lanjutan praperadilan penangkapan Muhammad Jibril Abdul Rahman, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa.
Sebelumnya, orangtua Muhammad Jibril yang ditangkap Mabes Polri terkait kasus teroris, Abu Jibril, meminta hakim menyatakan proses penangkapan anaknya oleh Mabes Polri tidak sah.
Menurut Iza Fadri, penangkapan yang dilakukan oleh termohon terhadap pemohon berdasarkan Surat Perintah No. Pol: SP.Kap/26/VIII/2009/DENSUSU 88-AT tanggal 25 Agustus 2009, tentang Perintah Penangkapan terhadap Muhammad Jibril, adalah sah.
"Karena telah dilakukan sesuai prosedur sebagaimana diatur dalam Pasal 18 KUHAP," katanya.
Hukum acara yang berlaku bagi pelaku tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud Pasal 25 UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme adalah UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP, mengenai ketentuan bukti permulaan yang cukup.
"Atau dengan kata lain penyidik tidak harus selalu berdasarkan pada laporan intelijen, tetapi juga dapat menggunakan dasar yang lain dalam rangka memperoleh bukti permulaan yang cukup," katanya.
Ia mengatakan sangat tidak beralasan dalil pemohon yang menganggap bahwa penahanan terhadap anak pemohon, adalah tidak sah.
Dikatakan, bahwa yang menjadi dasar dari termohon dalam melakukan penahanan selain adanya laporan polisi dan keterangan saksi, juga didasarkan pada ketentuan Pasal 21 ayat (1) KUHAP yang memberikan kewenangan bagi penyidik untuk melakukan penahanan terhadap seorang tersangka.
"Yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup," katanya.
Sebelumnya dilaporkan, pada 25 Agustus 2008, Polri mengumumkan bahwa Muhammad Jibril alias Muhammad Ricky Ardhan alias Ricky Ardhan bin Muhammad Iqbal bin Abu Djibril sebagai orang yang dicari karena diduga terlibat ledakan bom di JW Marriot dan Ritz-Carlton, 17 Juni 2009 yang menewaskan sembilan orang.
Ia menjadi buronan karena diduga menjadi perantara aliran dana dari luar negeri ke Indonesia yang kemudian dipakai untuk biaya ledakan bom.(www.antaranews.com)
"Menolak permohonan praperadilan dari pemohon (orang tua Muhammad Jibril Abdul Rahman) untuk seluruhnya," kata kuasa hukum Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Iza Fadri, dalam sidang lanjutan praperadilan penangkapan Muhammad Jibril Abdul Rahman, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa.
Sebelumnya, orangtua Muhammad Jibril yang ditangkap Mabes Polri terkait kasus teroris, Abu Jibril, meminta hakim menyatakan proses penangkapan anaknya oleh Mabes Polri tidak sah.
Menurut Iza Fadri, penangkapan yang dilakukan oleh termohon terhadap pemohon berdasarkan Surat Perintah No. Pol: SP.Kap/26/VIII/2009/DENSUSU 88-AT tanggal 25 Agustus 2009, tentang Perintah Penangkapan terhadap Muhammad Jibril, adalah sah.
"Karena telah dilakukan sesuai prosedur sebagaimana diatur dalam Pasal 18 KUHAP," katanya.
Hukum acara yang berlaku bagi pelaku tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud Pasal 25 UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme adalah UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP, mengenai ketentuan bukti permulaan yang cukup.
"Atau dengan kata lain penyidik tidak harus selalu berdasarkan pada laporan intelijen, tetapi juga dapat menggunakan dasar yang lain dalam rangka memperoleh bukti permulaan yang cukup," katanya.
Ia mengatakan sangat tidak beralasan dalil pemohon yang menganggap bahwa penahanan terhadap anak pemohon, adalah tidak sah.
Dikatakan, bahwa yang menjadi dasar dari termohon dalam melakukan penahanan selain adanya laporan polisi dan keterangan saksi, juga didasarkan pada ketentuan Pasal 21 ayat (1) KUHAP yang memberikan kewenangan bagi penyidik untuk melakukan penahanan terhadap seorang tersangka.
"Yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup," katanya.
Sebelumnya dilaporkan, pada 25 Agustus 2008, Polri mengumumkan bahwa Muhammad Jibril alias Muhammad Ricky Ardhan alias Ricky Ardhan bin Muhammad Iqbal bin Abu Djibril sebagai orang yang dicari karena diduga terlibat ledakan bom di JW Marriot dan Ritz-Carlton, 17 Juni 2009 yang menewaskan sembilan orang.
Ia menjadi buronan karena diduga menjadi perantara aliran dana dari luar negeri ke Indonesia yang kemudian dipakai untuk biaya ledakan bom.(www.antaranews.com)
Komandan NATO Tak Komentar Atas Kematian Sipil Afganistan
Berita Dunia-- @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->, Kunduz – Puncak Komandan NATO mengkonfirmasi bahwa warga sipil luka-luka dalam serangan udara untuk menghancurkan pemberontak di Afghanistan utara. Ini menjadi ujian utama dari kebijakan membatasi kekuatan udara untuk mengurangi korban sipil Afganistan sekaligus untuk memenangkan perang melawan Taliban. Jenderal Stanley McChrystal turun langsung dan berjalan menyisiri sungai setinggi lutut untuk memeriksa sisa-sisa dua tanker bahan bakar yang hancur dalam serangan hari Jumat (4/9). Dalam serangan itu dikatakan 90 orang tewas. Tidak jelas berapa banyak Taliban dan berapa banyak penduduk desa yang bergegas ke tempat kejadian untuk mengalirkan bahan bakar dari truk yang dicuri.
McChrystal mengunjungi lokasi kejadian berjarak 160 kilometer di utara Kabul, sesaat setelah pemimpin Eropa mengkhawatirkan perang yang menuntut jawaban atas korban yang ada. Sebelumnya, serangan roket udara diminta oleh Jerman dan dilaksanakan oleh jet tempur Amerika dianggap "suatu tragedi" dan "kesalahan besar" yang harus diselidiki.
Pengeboman ini juga mengirimkan gelombang kejut kepada Jerman menjelang pemilu nasional September 27. Politisi oposisi menyerukan penyelidikan menyeluruh, sementara menteri pertahanan bersikeras semua yang tewas adalah militan.
Setelah berkeliling di lokasi - dimana kaleng-kaleng bahan bakar kuning masih berserakan di tepi sungai - McChrystal kemudian mengunjungi rumah sakit di Kuncuz. Dia membungkukkan badannya untuk berbicara dengan anak laki-laki usia sepuluh tahun, yang tangan dan kakinya terbalut perban .
"Saat aku akan mengambil bahan bakar, di perjalanan aku mendengar ledakan besar, dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi," kata Muhammad Syafi'i.
McChrystal berbisik kepada anak itu "Tashakor," - terima kasih dalam bahasa Afgan – kemudian meninggalkan ruangan.
Korban sipil berjatuhan sejak operasi tentara Amerika dan NATO di Afganistan sejak invasi tahun 2001. Ketika McChrystal mengambil alih pimpinan pada bulan Juni, ia segera mengeluarkan perintah yang bertujuan mengurangi kematian seperti itu, dan meminta pasukan untuk berkonsentrasi melindungi desa Afganistan.
"Dari apa yang saya lihat hari ini dan pergi ke rumah sakit, itu jelas bagi saya bahwa ada beberapa warga sipil yang terluka di lokasi," McChrystal kepada wartawan. Dia tidak mengatakan apakah ada warga sipil tewas.
"Saya rasa ini akan menjadi ujian serius apakah kita bersedia untuk transparan dan apakah kita bersedia untuk menunjukkan bahwa kita berada di sini untuk melindungi orang-orang Afganistan," tambah McChrystal. "Dan aku berpikir sangat penting bagi saya untuk menindaklanjuti."
Para pejabat Jerman bersikeras semua orang tewas dalam serangan itu militan. Pejabat NATO lain, meskipun, telah mengakui bahwa kemungkinan besar warga sipil tewas juga.
Selama kunjungan ke lokasi, McChrystal menanyakan berapa banyak orang yang bisa dilihat di tepi sungai melalui video dari Jet tempur Amerika F-15E , yang melakukan serangan itu. "Apakah kita bisa melihat ke bawah sekitar 120 orang?" McChrystal bertanya.
Pejabat Afganistan mengatakan ada 90 orang tewas dalam pengeboman itu, meskipun Gubernur Kunduz menurunkannya pada pada Sabtu lalu diperkirakan sekitar 70 orang yang tewas.(www.news.yahoo.com)
McChrystal mengunjungi lokasi kejadian berjarak 160 kilometer di utara Kabul, sesaat setelah pemimpin Eropa mengkhawatirkan perang yang menuntut jawaban atas korban yang ada. Sebelumnya, serangan roket udara diminta oleh Jerman dan dilaksanakan oleh jet tempur Amerika dianggap "suatu tragedi" dan "kesalahan besar" yang harus diselidiki.
Pengeboman ini juga mengirimkan gelombang kejut kepada Jerman menjelang pemilu nasional September 27. Politisi oposisi menyerukan penyelidikan menyeluruh, sementara menteri pertahanan bersikeras semua yang tewas adalah militan.
Setelah berkeliling di lokasi - dimana kaleng-kaleng bahan bakar kuning masih berserakan di tepi sungai - McChrystal kemudian mengunjungi rumah sakit di Kuncuz. Dia membungkukkan badannya untuk berbicara dengan anak laki-laki usia sepuluh tahun, yang tangan dan kakinya terbalut perban .
"Saat aku akan mengambil bahan bakar, di perjalanan aku mendengar ledakan besar, dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi," kata Muhammad Syafi'i.
McChrystal berbisik kepada anak itu "Tashakor," - terima kasih dalam bahasa Afgan – kemudian meninggalkan ruangan.
Korban sipil berjatuhan sejak operasi tentara Amerika dan NATO di Afganistan sejak invasi tahun 2001. Ketika McChrystal mengambil alih pimpinan pada bulan Juni, ia segera mengeluarkan perintah yang bertujuan mengurangi kematian seperti itu, dan meminta pasukan untuk berkonsentrasi melindungi desa Afganistan.
"Dari apa yang saya lihat hari ini dan pergi ke rumah sakit, itu jelas bagi saya bahwa ada beberapa warga sipil yang terluka di lokasi," McChrystal kepada wartawan. Dia tidak mengatakan apakah ada warga sipil tewas.
"Saya rasa ini akan menjadi ujian serius apakah kita bersedia untuk transparan dan apakah kita bersedia untuk menunjukkan bahwa kita berada di sini untuk melindungi orang-orang Afganistan," tambah McChrystal. "Dan aku berpikir sangat penting bagi saya untuk menindaklanjuti."
Para pejabat Jerman bersikeras semua orang tewas dalam serangan itu militan. Pejabat NATO lain, meskipun, telah mengakui bahwa kemungkinan besar warga sipil tewas juga.
Selama kunjungan ke lokasi, McChrystal menanyakan berapa banyak orang yang bisa dilihat di tepi sungai melalui video dari Jet tempur Amerika F-15E , yang melakukan serangan itu. "Apakah kita bisa melihat ke bawah sekitar 120 orang?" McChrystal bertanya.
Pejabat Afganistan mengatakan ada 90 orang tewas dalam pengeboman itu, meskipun Gubernur Kunduz menurunkannya pada pada Sabtu lalu diperkirakan sekitar 70 orang yang tewas.(www.news.yahoo.com)
Ilmuwan Temukan Ikan Mendengkur, Katak Bertaring, Dan Tikus Raksasa
Berita Dunia,Beijing- Beberapa ilmuwan dan pembuat film telah menemukan spesies baru tikus raksasa jauh di pedalaman hutan Papua Nugini bersama dengan hewan lain yang selama ini tak pernah disaksikan.
Tikus berbulu tebal itu, hewan pengerat pemangsa sayuran dengan ukuran yang sangat besar, panjang 82 centimeter dan berat 1,5 kilogram. Ukurannya membuat hewan tersebut termasuk spesies tikus yang paling besar yang diketahui di mana pun di dunia.
Hewan tersebut ditemukan oleh satu tim ekspedisi yang membuat film bagi program BBC "Lost Land of the Volcano".
Namun tikus besar tersebut hanyalah satu dari puluhan hewan baru yang ditemukan di bawah gunung berapi Bosavi. Tim itu juga menemukan sejumlah laba-laba asing dan sebanyak 20 spesies serangga.
"Yang menjadi pusat perhatian meliputi bunglon, satu katak bertaring dan satu jenis ikan yang disebut `Henamo Grunter`. Ikan tersebut diberi nama seperti itu karena makhluk tersebut mengeluarkan suara mendengkur dari kantung udara saat berenang," kata Steve Greenwood, produser serial bagi "Lost Land of the Volcano". Katak bertaring tersebut adalah satu-satunya dari sebanyak 16 katak baru yang ditemukan.
Daerah tempat hewan itu ditemukan sangat tak sulit didatangi dan tim tersebut menghabiskan waktu beberapa pekan untuk mendaki puncak setinggi 2.800 meter dengan bantuan pencari jejak lokal.(www.news.yahoo.com)
Tikus berbulu tebal itu, hewan pengerat pemangsa sayuran dengan ukuran yang sangat besar, panjang 82 centimeter dan berat 1,5 kilogram. Ukurannya membuat hewan tersebut termasuk spesies tikus yang paling besar yang diketahui di mana pun di dunia.
Hewan tersebut ditemukan oleh satu tim ekspedisi yang membuat film bagi program BBC "Lost Land of the Volcano".
Namun tikus besar tersebut hanyalah satu dari puluhan hewan baru yang ditemukan di bawah gunung berapi Bosavi. Tim itu juga menemukan sejumlah laba-laba asing dan sebanyak 20 spesies serangga.
"Yang menjadi pusat perhatian meliputi bunglon, satu katak bertaring dan satu jenis ikan yang disebut `Henamo Grunter`. Ikan tersebut diberi nama seperti itu karena makhluk tersebut mengeluarkan suara mendengkur dari kantung udara saat berenang," kata Steve Greenwood, produser serial bagi "Lost Land of the Volcano". Katak bertaring tersebut adalah satu-satunya dari sebanyak 16 katak baru yang ditemukan.
Daerah tempat hewan itu ditemukan sangat tak sulit didatangi dan tim tersebut menghabiskan waktu beberapa pekan untuk mendaki puncak setinggi 2.800 meter dengan bantuan pencari jejak lokal.(www.news.yahoo.com)
Langganan:
Postingan (Atom)
