Kamis, Maret 11, 2010

Krisis Global, Dimana Anda?

WES - Australia

Dear Zeverina, AsMod & KoKiers


Email address ini hanya untuk Zeverina & Asmod

Tatkala beberapa negara besar dinyatakan terlanda Krisis Global Ekonomi dan Keuangan yang ditandai dengan kebangkrutan perusahaan-perusahaan besar dan perbankan disana sini kebanyakan orang terhenyak dan terperanjat. Bencana apaan yang melanda? Istilah "Resesi" tiba-tiba menjadi populer dan orang lalu mengaitkannya dengan Resesi yang pernah terjadi ditahun 1929 yang kemudian menyeret dunia kelembah "Depresi Besar tahun 1930".
Orang tua-tua (yang banyak sudah almarhum) mengingatnya sebagai "masa kelam" atau "masa susah" (di Indonesia kala itu dijuluki "malaise") : pengangguran dimana-mana, jualan apapun susah laku karena tiadanya daya beli, ambruknya pabrik, bank dan perdagangan diiringi meningkatnya kriminalitas.




Suatu keadaan dikatakan "Resesi" bila terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi real kurang dari 2% selama sedikitnya 2 quarter yang bisa terlihat dari pertumbuhan GDP negatif disektor pendapatan perorangan, kesempatan kerja, industri, keuangan, grosir dan eceran.

Orang awam umumnya mengira bahwasanya Resesi itu hadir didunia ini baru dua kali yaitu ditahun 1929 dan sekarang di tahun 2009 padahal kalau kita gali data-data historis yang ada terbukti Krisis Global selalu muncul setiap 8-10 tahun sekali.
Di Amerika Serikat sendiri semenjak tahun 1980 tercatat 8 periode negative economic growth dengan 4 periode Resesi, diseluruh dunia selama 3 dekade ini ada 3 Krisis Global yaitu ditahun-tahun 1990-1993, 1998 dan 2001-2002. Ini belum terhitung berbagai Krisis baik Global maupun Lokal yang kecil-kecil sepanjang masa sejak orang mulai mengenal uang sebagai alat tukar/pembayar yang sah.

Mengapa Krisis itu bisa terjadi berulang-ulang?

Ya karena "nature" atau "pembawaan alamiah" dari perekonomian adalah seperti itu, yaitu merupakan SIKLUS EKONOMI. Masa Booming/Bullish (disimbolkan sebagai "bull" atau "banteng") akan diikuti dengan Masa Bearish ("bear" atau "beruang) dan begitu seterusnya, artinya setiap kenaikan akan diikuti penurunan dan setiap penurunan akan diikuti kenaikan.

Begitu dengar momok Resesi umumnya Pemerintah lalu mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menanggulanginya, tetapi ternyata pengalaman dimasa-masa lalu menunjukkan bahwa perekonomian dunia ini punya "self healing" (proses penyembuhan diri sendiri). Nampaknya kebijakan-kebijakan itu cuma sekedar "penurun panas" atau "pereda rasa sakit" bukan sebagai "obat yang cespleng" bahkan sepertinya tanpa diapa-apakan pun akan "beres sendiri".




Sebagaimana aku telah memaparkannya panjang lebar di Forum KoKi (silahkan baca Artikel-artikelku yang dulu-dulu) maka "BIANG KELADI" dari "KRISIS GLOBAL" adalah "SUBPRIME LENDING" dan "LEVERAGE" dengan "PRODUK-PRODUK DERIVATIVE" NYA. Sulitnya sistim perekonomian, moneter dan finansial ini sudah berjalan begitu lama, mendarah daging dan terbukti effektif mendongkrak taraf hidup umat manusia sehingga mustahil untuk dihapuskan begitu saja, karena tidak pernah ada sistim lain yang lebih baik dan effisien.
Maka petinggi, ahli ekonomi keuangan dan pelaku pasar sepakat untuk mengendalikan ketimbang menghapus. Dimulai dengan memilih lebih ketat calon Debitur serta menaikkan persyaratan kepemilikan uang sendiri, menyetop atau membatasi "short selling", menaikkan "margin requirements" dan berbagai pembatasan lainnya. Setidaknya itu sedikit banyak meng-erem spekulan bermodal "cekak" mengacaukan pasar.
Bayangkan tadinya dengan modal $ 100,000 orang "pintar" bisa rekayasa membeli 10 rumah senilai hampir $ 10 juta dan pelaku pasar dengan modal $ 1,000 bisa ikutan "main" dipasar uang dan saham sampai berpuluh kali lipat. Terjadilah "over trading" dan "over confident" yang bisa mencelakakan si pelaku maupun pasar.
Barangkali buat sebagian dari Anda yang awam terhadap "permainan" ini, aku ambil contoh Credit Card saja. Dengan penghasilan sekitar $ 60,000 setahun atau $ 5,000 sebulan belum dipotong pajak penghasilan  (Provider Credit Card umumnya tidak betul-betul mengeceknya) Anda bisa memperoleh limit Credit Card $ 10,000. Bayangkan bila setiap bulannya belanja Anda lebih dari $ 5,000 ....... lama kelamaan pasti Anda tekor bakal tidak sanggup membayar penuh, lalu setiap bulannya hanya bayar beberapa ratus $ sebagai persyaratan minimal maka hutang Anda membengkak kena bunga.

SECARA HISTORIS TERNYATA PRODUK DERIVATIVE ITU SUDAH LAMA ADA DINEGARA LAIN (DIANTARANYA JEPANG & BELANDA), JADI BUKAN MONOPOLI "WALL STREET" NYA USA SAJA.
Selama periode 1534 - 1582 Jepang dipersatukan oleh 3 jenderal kharismatik (Nobunaga Oda, Hideyoshi Toyotumi & Leyasu Tokagawa)..........itu adalah masa dimana perdamaian tercipta dan berbagai kesempatan usaha berkembang.
Mulai tahun 1600an konsep "Japanese Candlestick" diperkenalkan, dikembangkan dan di-test untuk memonitor harga pasar beras. Oleh karena di jaman itu belum ada mata uang yang distandar, maka harga beras dijadikan alat tukar dan semacam mata uang. Pada akhir tahun 1600 Rice Exchange dibentuk dan segala aturan permainannya ditentukan. Pada tahun 1710 ada lebih dari 1,300 rice dealers. Makin lama makin banyak peminatnya, sehingga diterbitkan kupon-kupon yang bisa diperdagangkan dan kupon-kupon itu besarnya kian jauh melampaui stock beras beneran-nya. INILAH AWAL DARI "FUTURES CONTRACTS" YANG DIPERJUAL-BELIKAN.

Pada waktu yang bersamaan di Negeri Belanda terjadi "Tulip Mania" dimana bunga Tulip menjadi standard medium of exchange dan dianggap lebih berharga dibandingkan emas. Maka diciptakanlah "Kupon Tulip" yang bisa diperdagangkan tanpa menghiraukan ada tidaknya persediaan bunga Tulip.

Lalu bagaimana kiprah Kupon Beras dan Kupon Tulip?
Pada tahun 1749 ada sekitar 110,000 bal beras diperdagangkan melalui "kupon beras kosong" karena stock beras sesungguhnya diseluruh Jepang cuma 30,000 bal saja. Begitu pula nasib Kupon Tulip.

Apakah tidak ada manfaatnya gagasan Candlestick, Kupon Beras dan Kupon Tulip?

Manfaatnya jelas ada yaitu kedua kupon tersebut merupakan cikal bakal dari FUTURES TRADING yang dewasa ini merupakan multibillion dollar industry. Sedangkan Candlestick Charts yang dikembangkan oleh Munehisa Homma seorang dominant trader di pasar beras Jepang ........................... sekarang digunakan oleh para otoritas negara, pelaku bisnis dan pelaku pasar sebagai alat untuk memantau dan menentukan keputusan analisa/harga. Candlestick Charts digunakan bersamaan dengan traditional Bar Charts dan Line Charts.

MEMBOSANKAN YA ? YA, TETAPI ANDA PERLU DAN HARUS TAHU ! NASIB KEUANGAN ANDA ADA DITANGAN OTORITAS NEGARA, PELAKU BISNIS DAN PELAKU PASAR ! Bekerja keras, pandai sekolahan, rajin dan hidup hemat tidak cukup kuat untuk mendongkrak taraf hidup Anda !

 

Di Australia, anak-anak sekolah High School sudah diajari pengetahuan saham, currency dan bisnis bahkan dengan bimbingan gurunya pada ikut Kompetisi Jual Beli Saham yang diselenggarakan oleh Bank dsb.......... berhadiah uang pula !

 

Regards

WES, Australia

Ritual Penguburan Mayat Paling Sadis

Reef - Australia



Disclaimer : Artikel dengan tema yang sama pernah dimuat di KoKi tiga tahun lalu dan karena sesuatu hal, artikel ini sengaja ditulis kembali dengan beberapa update berita sesuai situasi dan kondisi serta tambahan informasi, dan melalui beberapa peng-editan, walau tema sama, namun dengan metode penyajian berbeda, dan artikel ini ditulis berdasarkan dari berbagi sumber baik on line seperti wikkipedia, situs-situs berkaitan, youtube  maupun buku berjudul SKY BURIAL karya Xinran.

Sweet Zeve/Asmods dan para pembaca KoKi  dimanapun Anda berada, salam damai dari Oz

Prolog :


Sesosok tubuh anak muda berkulit putih yang sudah tidak bernyawa itu terbungkus kain putih dan dalam keadaan terikat kedua tangan dan kakinya, para pengusung jenazah tersebut dengan hati-hati menurunkan bungkusan yang dipanggul oleh salah seorang lelaki dan lelaki itu kini meletakkan bungkusan tersebut dan membuka kain kafan yang membungkusnya dan kemudian menelungkupkan jenazah anak muda  tersebut di atas sebuah altar, dan segera membuka kedua ikatan tangan dan kakinya. Salah seorang pendeta yang bertugas memimpin ritual maju ke depan dengan mengenggam sebatang parang yang nampak tajam berkilat, sementara itu para pelayat yang hadir di tempat sunyi itu nampak diam khidmat menyimak upacara yang segera dimulai dengan iringan nyanyian-nyanyian suci yang ritmik menghipnotis dan makin lama makin bergema dan irama yang berayun-ayun magis,  angin yang semula bertiup sepoi-sepoi mendadak seolah berhenti, suasana makin mencekam, hanya nyanyian para pendeta yang terdengar makin kompak dan menyatu, kemudian............satu, dua tida dan......

"Croooooooooook...crooooooooooooooooook...creeeeeeeeeees..............."

Mata parang yang tajam terdengar nyaring. Ya, proses  memotong-motong tubuh jenazah telah dimuali. Suasana makin mencekam. Seemntara lelaki yang tengah melakukan 'deed' tersebut tampak kalem dan begitu tenggelan dalam pekerjaannya, hanya sekali-kali terdengar bunyi parangnya di tengah-tengah gemuruh suara burung bangkai yang mulai ribut dan juga doa-doa suci yang berasal dari para pendeta yang mengelilingi lelaki tersebut. Puluhan burung bangkai sudah nampak bergerombol menanti makan siang yang hampir siap.




Dear KoKiers,


Topik pemakaman sky burial ini kembali mengusikku. Beberapa hari lalu, secara tidak sengaja, aku came accross salah satu web log yang mengupas tentang hal ini, jujur topik ini seolah kembali membuka 'memori' lama salah satu artikel yang pernah kutulis untuk koki.  Kira-kira dua minggu sebelumnya, ketika lagi-lagi aku came accross chatting dengan tokoh KoKiers beken Ria Kansas yang juga dalam salah satu topik chattingan kembali membuka 'memori' artikel tersebut yang menurut beliau, Ria terkesan oleh artikel tersebut. Pengakuan Ria membuatku melambung dan terbersit keinginan untuk kembali menulis topik sama, dan niat semakin kuat ketika 'baru' dua malam lalu, kembali aku seolah diingatkan oleh niat ini, gara-gara menonton film yang dalam salah satu adegannya, menampilkan upacara sky burial ini, yang ilustrasinya ada di bagian 'prolog' tulisan ini.

Ritual pemakaman sky burial  yang walau tidak banyak tetapi masih tetep ada sampai sekarang. Adalah sebuah sekte dari agama di Tibet  terutama yang  masih percaya akan reinkarnasi, masih melakukan ritual pemakaman sky burial.  Metode penguburan mayat ini tidak berlaku untuk sembarang mayat. Ritual ini tidak untuk orang yang pada waktu menjadi almarhum/mah belum berusia 18 tahun, atau bagi wanita hamil yang meninggal atau orang-orang yang meninggal karena penyakit menular dan berbahaya.

Pada dasarnya, selain dikubur  layaknya di belahan bumi manapun, di Tibet khususnya, masih ada tiga jenis pemakaman, yaitu : dipersembahkan kepada laut (water burial,  yaitu metode penguburan dimana mayat di berikan kepada ikan-ikan untuk jadi santapan sang ikan di laut), yang kedua adalah : dikremasi dan  yang terakhir adalah sky burial ini, yaitu metode penguburan mayat dimana tubuh mayat dipersembahkan kepada vultures atau burung bangkai.



Pemakaman ini berpangkal pada logika karena adanya kesuliatn untuk menggali kubur dan mencari kayu untuk mengkremasi mayat, hal ini seperti kita ketahui bahwa kondisi geografis  Tibet yang bergunung-gunung yang seringkali sangat terjal sangat menyulitkan pemakaman 'normal'  dan karena alasan inilah, dari sekian aliran agama di Tibet, ada sebuah kelompok aliran tertentu di Tibet yang lebih senang mengubur mayat dengan metode sky burial.  yang intinya adalah memberikan jazad almarhum kepada burung pemakan bangkai. Dipercaya bahwa sky burial akan lebih mempercepat roh si mati untuk naik ke nirvana .  Perjalanan akan jauh lebih cepat dengan bantuan burung vultures. Yang dalam bahasa Tibet disebut Dakinis  atau terjemahannya adalah "sky dancer' yang berarti  "angel".

Ritual penguburan ini, dinilai  sangat barbar dan keji, dan juga dianggap tidak menghormati mayat yang bersangkutan dan oleh karenanya, upacara sky burial ini pernah dilarang oleh pemerintah China  ketika China  komunis masih berkuasa di Tibet pada tahun 1960-1970, namun pada tahun 1980 an pemerintah Tibet mengijinkan kembali acara ini untuk tetep berlangsung, karena bagaimanpun juga model ritual ini selain masih dilakukukan oleh sebagian masyarakat,  walau sudah dilarang,.
Sky burial juga merupakan ritual agama yang mempunyai arti sangat penting bagi kelompok yang menyakininya dan merupakan warisan budaya Tibet juga . Bahkan di tahun-tahun belakangan juga menarik para jurnalis dunia untuk menggali berbagai informasi tentang Sky burial dan juga tentu menarik para turis, walau upacara sky burial ini lebih sering dilakukan sangat tertutup dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikan jalannya upacara yang mendirikan bulu roma ini.

How about the actual ritual...?? Apakah hanya merupakan isapan jempol saja atau memang benar-benar ada?




Here the details :

Pertama-tama jika ada anggota keluarga yang meninggal, maka mayat si orang tersebut akan didiamkan selama 3 hari sampai 7 hari tanpa disentuh. Kemudian setelah anggota keluarga setuju mengenai jenis pemakaman apa yang hendak dilakukan, barulah mereka menyiapkan ubo rampenya. Pada umumnya mereka memilih metode sky burial. Ya, karena dengan kepercayaan kuat bahwa burung vulture akan mempercepat proses si arwah untuk naik ke sorga.  Dengan kata lain : thanks to the vultures. Sky burial faktanya memerlukan dana cukup besar,  walau masih dibilang jauh lebih murah jika dibanding dengan upacara kremasi.

Ketika kematian menimpa sebuah keluarga, maka pihak keluarga akan segera mengundang pendeta yang akan mengepalai upacara dan  selanjutnya sang pimpinan pendeta akan menunjuk juga pendeta-pendeta lain yang tugasnya membakar hio dan chanting doa, mendoakan arwah yang meninggal dan juga sang pemimpin menunjuk seorang yang disebut "flesh breaker"  sang jagal mayat  yang tugasnya sangat vital dalam upacara ritual.  Seorang flesh breaker kehadirannya adalah mutlak karena tugas inti dari ritual pemakaman ini ada di pundaknya. Lebih sering flesh breaker lebih dari satu.
Setelah si mayat dimandikan dan dibersihkan, tubuh si mayat dibungkus dengan kain putih dan di arak ke tempat upacara  dengan cara ditandu atau hanya digendong di pundak. Dalam beberapa video yang aku saksikan upacara sky burial sering dilakukan secara kolektif juga,  Biasanya di sebuah kuil, dimana upacara pre-penguburan, mayat lebih dari satu. Kadang-kadang dalam suatu upacara bisa terdiri dari lima mayat sekaligus. Mereka berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Satu-satu mayat datang dengan dipanggul dan dalam keadaan ditekuk seperti duduk.  Dan kemudian mayat diletakkan di salah satu hall di kuil tempat diadakan ritual dan didoakan sebelum diangkut ke lokasi pemakaman. Tempatnya biasanya berlokasi di puncak gunung, dan yang dianggap punya makna khusus. Dengan diiringi kepulan asap hio yang tiada henti mengepul, serta doa-doa pendeta  yang penuh khidmad mereka menuju tempat penguburan.

Ritual upacara ini sangat tertutup bagi masyarakat umum dan biasanya juga tidak banyak yang menyaksikan. Walau disarankan anggota keluarga turut menyaksikan sky burial untuk menyaksikan "kenaikan" arwah orang tercinta dalam memulai perjalanannya menuju ke nirvana. Kelompok  penganut agama ini percaya bahwa tubuh manusia yang sudah meninggal adalah hanya sebagai " vessel atau wadag" saja, artinya sudah tidak ada maknanya, dan sesuai dengan ajaran agama mereka yang berdasar "memberi" maka dengan dipersempahkan wadag ini kepada burung, akan membantu makhluk lemah yang perlu survive untuk hidup,  dalam hal ini  memberi makan vultures dengan potongan daging berasal dari jazad yang meninggal juga merupakan simbol suci agama tersebut. (dakinis)

Setelah iring-iringan pengangkut mayat tiba di tempat upacara, mayat dibaringkan dalam posisi fetal (seperti ketika bayi dilahirkan) di atas sebuah altar yang berbetuk batu besar dengan permuakaan datar yang berada di tengah-tengajh lokasi. Setelah itu,  dibuka kain pembungkusnya dan mayat dalam keadaan telanjang, yang tak jarang juga sudah berbau busuk dan bengkak-bengkak kemudian sang pendenta melakukan doa-doa dan tugas si flesh breaker ini dimulai. Dia akan segera memotong-motong tubuh si mayat dan memisahkan antara daging dan tulang, dan hanya meninggalkan kepala dan rambut. Biasanya mereka menyimpan rambut untuk dibawa pulang atau ada yang disimpan di  kuil-kuil, walau tak jarang mereka juga memecah kepala mayat dan mengambil tengkoraknya dan dibawa pulang untuk dijadikan sebuah cangkir untuk minum teh talking about a cup of butter tea......But of course, cangkir inipun lebih bermakna simbolis saja.




Proses selanjutnya adalah sang pendeta akan memanggil puluhan burung bangkai yang ginuk-ginuk yang sudah ngiler  kelaparan dan tidak sabar menanti dinner. Mereka bergerombol terbang rendah di sekitar altar dan dengan panggilan khusus dari pemimpin upacara,

"...tzsoooooooooooooooooo...tzshooooooo..............tzshoooooooooooo......."


dan....bebbeerrrrrrrrrrrrrrrrr  berpuluh-puluh monster yang sudah menunggu mulai pesta pora tanpa membuag waktu lagi, and the real party is started.  Burung-burung yang kelaparan mulai merayah organ-organ dalam si mayat yang dilemparkan oleh si pendeta sebagai appetizer. Setelah platter antipasto organ lenyap di mulut para burung, dilanjut dengan daging-daging yang di sebarkan ke arah mereka. Darah berceceran di TKP semakin membuat barisan burung bangkai mad as a hell.  Seasana makin sinister. Mereka menimbulkan suara gaduh yang mendirikan bulu roma.



Setelah kenyang,  mereka terbang , namun ada juga dari sekian puluh yang belum kebagian jatah makan siang masih konsentrasi di tempat menunggu sisa-sisa daging. Si flesh breaker akan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai, yaitu mengumpulkan tulang belulang si mayat, setelah itu dia mengambil  palu dan mulai meremukkan tulang belulang sampai menjadi serpihan-serpihan kecil, atau berupa bubuk tulang dan setelah serpihan yang sudah terkumpul  termasuk kadang-kadang otak, maka bubuk tulang tersebut dicampur dengan tsampa (tepung barley) makanan khas Tibet dan juga kadang-kadang dicampur dengan Yak butter (sejenis keledai/sapi/or kebo), setelah itu, adonan itu disebar ke penjuru tempat ritual dengan maksud diberikan kepada burung-burung yang lebih kecil lainnya seperti burung gagak atau rajawali.
Para peserta ritual ini belum boleh meninggalkan arena kalau belum diyakini benar bahwa tidak ada sisa-sisa sedikitpun dari tubuh si mayat yang berserakan, alias bersih..sih.  Sehingga tidak ada yang sampai ketinggalan untuk kembali ke nirvana. Setiap inci tubuh mayat tidak ada yang boleh ketinggalan secuil pun.







Dear KoKiers, burung vultures ini dipercaya bukan hanya sekedar makan sepotong dua potong daging  si almarhum, tetapi actually they are removing the body and completing the life's cycle.
 

Memang nampaknya metode penguburan sky burial ini sangat kejam dan brutal sekali, tetapi itulah kenyataan yang ada di dunia ini, aneh tetapi nyata. Berbagai macam adat istiadat yang mungkin bagi sebagian orang sangat kejam tetapi bagi orang lain merupakan sebuah "deed". Lain ladang lain belalang. Simple as that.


Salam manis,

Reef Australia

Shigeo Tokuda: Bintang Porno Lansia

Jaap – Amsterdam 

*) Kaum lansia lebih senang nonton film erotis dengan bintang-bintang  uzur. Buktinya, Jepang punya aktor syur berusia 75 tahun.Tua-tua keladi?
 

Akibat kemajuan zaman, bedah plastik, viagra dan generasi baby-boom, makin banyak manula enggan menghabiskan ‘sisa hidup’ di panti jompo. Bahkan, ada yang sudah melewati 70 tahun dan malah meniti karir di industri porno.

Sepintas, Shigeo Tokuda (75) tampak seperti businessman santun dan matang. Istrinya duduk tenang di sisinya. Kabarnya, mereka akur mengarungi perkawinan selama  44 tahun. Namun, 14 tahun terakhir Tokuda malah membintangi lebih dari 350 film biru dihiasi judul-judul mengundang syahwat seperti Maniac Training of Lolitas, Forbidden Elderly Care atau Tit-lover Old Man Kameichi and His Horny Pranks.

“Orang seusia saya biasanya sungkan memperlihatkan tubuh dan kelamin dihadapan kamera. Saya bangga sanggup mendobrak tabu. Tapi, bukan berarti bisa bicara seenaknya mengenai hobi baru saya dengan teman-teman lain,” ujar Tokuda – nama artisnya – dalam sebuah wawancara. Mafhum, ia pun dijuluki ‘kaisar film porno’.

Jepang memiliki jumlah penduduk 65+ tertinggi di dunia dan industri hiburan porno senilai lebih dari satu miliar dollar per tahun. Sekitar 300 keping elder-porn menyembul di deretan ribuan film ‘panas’ yang dipajang di rak gerai video terkemuka Tsutaya. 

Ryuichi  Kadowaki, direktur Ruby Productions, produsen film erotis, menerangkan, “Beberapa tahun lalu kami membuat film porno khusus lansia dengan pemain berumur 30-an dan ternyata sukses. Seri-seri berikutnya kami memakai aktor berumur 40-an, 50-an dan seterusnya. Makin tua pemainnya justru makin diminati. Mulai 2008 kemarin, kami juga menggunakan aktor berusia 70-an.”

Menurut Kadowaki, mungkin sebagian akan berpikir, tipikal orang Jepang yang aneh dan senang sensasi. Namun, bintang porno Amerika Ron Jeremy pun sudah menginjak 53 tahun dan masih aktif di atas panggung khusus dewasa. Tiga tahun silam, AVN Awards (ajang piala Oscar untuk film porno) pertama kali memberikan penghargaan untuk kategori porno lansia. “Perkembangan mencengangkan di industri pornografi. Dulu, pemain di atas 35 tahun sudah harus pensiun,” tambahnya.






Porno lansia mengisi pangsa pasar film erotis dengan pemain-pemain berkulit kisut melawan aktor dan aktris tanpa keriput. “Seringkali pasutri lansia mencari film-film dengan bintang seusia mereka. Sang istri sudah jemu melihat parade aktris mulus hasil operasi plastik,” tutur Ella, pemilik post-order dan erotic-shop Mail & Female di Belanda.
Toko Ella menjual produk dan atribut porno ‘ramah wanita’. “Sekarang, sudah jamak melihat seorang nenek sendirian memilih film esek-esek di etalase toko. Sebelumnya saya sempat kaget juga,” imbuhnya. Menurut hasil penelitian New England Journal of Medicine, frekuensi aktivitas seksual responden di atas 57 tahun tidak mengalami banyak perubahan. Bahkan, 29% laki-laki dan 25% perempuan di atas 80 tahun masih aktif di ranjang, kendati viagra kerap disebut sebagai alat bantu ajaib dan mujarab.

Selain itu, kemajuan medis memungkinkan kaum lansia tetap awet muda dan kelihatan fit dengan bantuan bedah kosmetik. Berbeda dengan orang tua mereka, babyboomers pernah mengalami sendiri revolusi seksual pada akhir tahun 60-an. “Buat mereka tak ada lagi batasan tabu atau malu. Biasanya, mereka juga hidup mapan dan ingin mengejar ketinggalan,” jelas Linda, penyalur produk lifestyle Christine le Duc di Amsterdam. Ia menolak gerainya disebut sex-shop. 

Di belahan dunia lain, Tokuda sibuk menandatangani setumpuk DVD untuk penggemarnya. “Saya tak tahu sampai kapan bisa hidup. Sisa umur ini akan saya nikmati semaksimal mungkin. Mudah-mudahan saya masih dapat merayakan hari jadi ke-80,” pungkas si ‘kuda jantan ulung’ Tokuda-san.





>>Sumber: Harian de Telegraaf “Oud & Stout” (06-02-2010)<<

Diskriminasi, Imigran dan Kebinekaan di Amerika

Sri Rum - Amerika
 Dear Zeverina: 
Meskipun terlambat saya mengucapkan “Selamat dan terimakasih” untuk KoKi yang baru yang lebih yahud. Semoga sukses dan menjadi rumah yang kokoh yang tidak seorangpun bisa mengutiknya. 
Rupanya saya banyak ketinggalan jaman. Saya sungguh kagum atas keteguhan jeng Zev mempertahankan prinsip dan ideologinya, yang tidak hanya untuk ukuran jurnalis di Indonesia tapi juga di Amerika.  Saya yakin jeng Zev tidak akan menyerah dan segera bangkit kembali yang ternyata jauh lebih cepat dari perkiraan saya.  Entah bagaimana pelaksanaannya, tapi yang terpikir waktu itu adalah kami- kami bisa subscribe, yang kiranya sangat wajar, mengingat KoKi selama ini telah membawa kebahagiaan bagi banyak orang yang tersebar di sekian ratus negara.  Atau kalau ada yang saya belum tahu, mohon dikabari. Dari tulisannya “Resign dan uhuhu, ..” --   http://www.koki-kolomkita.com/baca/artikel/17/82/resign_dan_huhuhu_....  ---  yang membuat saya sangat terharu, kelihatannya masalah financial ini sudah ada titik terang, semoga. Juga terimakasih kepada KoKiers- AsMods yang telah ikut menyingsingkan lengan baju.  
Salam hangat, Sri Rum.  
Sekitar dua bulan lalu ada suara yang mendesak diadakannya reformasi imigrasi yang datang dari etnik Hispanic yang merupakan kelompok yang paling cepat pertumbuhannya di Amerika.  Mereka menagih janji presiden Obama untuk melakukan ‘comprehensive immigration reform’, yang bagi mereka intinya tidak lain adalah pemberian amnesty bagi saudara mereka serumpun yang masuk Amerika tanpa dokumen resmi alias illegal agar menjadi legal.
Imigran yang berasal dari berbagai suku bangsa yang merajut Amerika terbukti telah memberikan andil bagi kemajuan negeri ini.  Tapi di lain pihak, kebinekaan ini juga bisa menjadi situasi yang thorny alias berduri.  Tulisan ini merupakan sorotan seputar hal- hal yang berpangkal dari kebinekaan ini, dari sisi yang barangkali orang enggan membicarakan namun merupakan fakta yang mewarnai keseharian.  Kalau salah satu etnik paling banyak disebut- sebut samasekali tidak ada maksud- maksud tertentu selain untuk memberikan gambaran situasi seakurat mungkin. 

Awal tahun lalu salah satu Koran terbitan Indonesia memuat berita tentang rencana pemerintah Amerika untuk mendeportasi imigran gelap asal Indonesia dan beberapa negara tetangga kita di antaranya Vietnam dan Philippines.  Juga disebutkan bahwa deportasi gelombang kedua akan menyusul beberapa bulan kemudian.  Tahun ini, kira- kira pada bulan yang sama, terbetik lagi berita serupa dimana untuk keperluan itu pihak imigrasi Amerika katanya sampai men-charter pesawat.



Sekilas, berita di atas mengesankan ketatnya penegakan hukum yang menyangkut imigrasi di Amerika.  Namun benarkah memang demikian? 
Ada hal yang dalam pengamatan saya mencolok yaitu sikap kurang konsisten yang membuahkan kesan adanya perbedaan perlakuan alias diskriminasi yang menguntungkan kelompok imigran tertentu.  Di Amerika diskriminasi merupakan hal yang sangat sensitive dan tabu besar, jadi tidak etis mencurigai paman Sam tanpa bukti- bukti.  Namun kiranya fair game kalau sekedar mengangkat hal- hal yang bisa kita lihat sehari- hari disertai opini di sana- sini.
Menurut berbagai sumber, jumlah imigran gelap (IG) di Amerika saat ini diperkirakan lebih dari duabelas juta, jumlah yang lebih dari cukup untuk mendirikan suatu negara.  Tidak disebutkan apakah jumlah tersebut termasuk anak- anak mereka yang lahir di Amerika yang secara hukum (mestinya?) adalah WN Amerika yang selama ini entah bagaimana mekanismenya telah menyerap dana yang tidak sedikit untuk biaya pendidikan dan kesehatannya.  Dalam situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang, dana tersebut merupakan beban yang tidak ringan terutama bagi negara bagian (state) yang mengalami deficit anggaran yang parah seperti California yang telah membuat governor- nya, actor Arnold ‘Terminator’ Schwarzenegger kalang kabut.
Dari jumlah tersebut mayoritas adalah pendatang dari selatan yaitu etnik Hispanic terutama berasal dari Mexico disusul beberapa negara Amerika Latin lainnya.  Imigran Hispanic juga merupakan kelompok yang paling banyak memperoleh citizenship melalui proses naturalisasi, yang menurut data resmi dari INS (Immigration and Naturalization Services) mencapai di atas 40% dan selebihnya berturut- turut adalah Asian, Caucasian (kulit putih) dan African.
Berdasarkan kedekatannya secara geografi ditambah dengan ketimpangan ekonomi di negara asal, tingginya jumlah imigran Hispanic tidak mengherankan dimana untuk masuk Amerika, mereka cukup menyeberangi Rio Grande atau memanjat dan membobol pagar perbatasan, atau melalui syndicate yang dengan sejumlah uang tertentu menyelundupkan dengan berbagai cara.  Selain itu juga melalui terowongan rahasia yang mereka buat yang sekaligus berfungsi untuk menyelundupkan drugs seperti yang beberapa kali ditemukan di Arizona termasuk yang terakhir awal bulan Juni tahun ini.
Membanjirnya IG dengan segala eksesnya ditambah makin derasnya lalu- lintas penyelundupan drugs/ drugs trafficking dari selatan ke Amerika telah menimbulkan masalah keamanan yang serius.  Perang antar drug cartels yang saling bersaing banyak memakan korban masyarakat yang tidak berdosa.  Meskipun tumpukan mayat tanpa kepala yang tidak jarang ditemukan di wilayah Mexico belum sampai terjadi di Amerika, namun penculikan, perkosaan, perampokan dan pembunuhan sudah lama tumpah ke kota- kota sepanjang perbatasan di wilayah Amerika.  Polisi patroli perbatasan Amerika juga banyak yang menjadi korban saat mempertaruhkan nyawa menghadapi mereka yang sadis dan tidak jarang memiliki persenjataan yang lengkap ini.  





Tahun lalu ada kabar suami salah seorang teman mau dipindahkan ke kota yang cukup besar di dekat perbatasan.  Tapi ternyata kemudian pindahnya ke sebuah kota kecil di lain state.  Rupanya suaminya berhasil nego dengan tempat kerjanya agar tidak dipindah ke kota yang tingkat kriminalitasnya tinggi ini.  Padahal kalau tidak ada alasan yang kuat umumnya orang enggan dipindah ke kota kecil yang mana untuk belanja di supermarket yang agak lumayan saja harus bermobil ke kota tetangga yang lebih besar yang jaraknya puluhan mil.
Namun anehnya heboh di perbatasan tersebut ternyata tidak mendapat perhatian memadai dari media terutama yang cenderung liberal.  Padahal kegigihan media Amerika dalam memburu dan menggali berita tidak disangsikan lagi, dimana tidak jarang skandal asmara tokoh yang sudah lama di alam baka- pun masih berusaha dihidupkan kembali. 
Sikap pemerintah baik di bawah presiden dari partai Demokrat maupun Republikan dalam masalah ini kesannya tidak terlalu berbeda.  Sebaliknya masyarakat terpolarisasi dimana mereka yang menganut faham kanan atau kita sebut saja konservatif yang merupakan voter Republikan umumnya menginginkan pengetatan pengamanan perbatasan serta penegakan aturan imigrasi.  Sedangkan yang berfaham kiri atau liberal yang pro partai Demokrat rata- rata lebih lunak.
Berikut ini dua di antara banyak peristiwa tragis yang berkaitan dengan ulah imigran gelap dari selatan.
Empati berlebihan kepada anak tetangga, saudara sendiri dibiarkan mati merana. Kalimat tersebut dengan tepat menggambarkan tragedy yang terjadi tahun lalu dimana seorang ayah bersama dua anak laki- lakinya yang berumur duapuluh dan enambelas tahun yang sedang bermobil di jalanan di San Francisco ditembak mati oleh seorang anggota geng yang statusnya imigran gelap dari El Salvador.
Yang sangat menyakitkan bagi keluarga korban terutama wanita yang dalam sekejap kehilangan dua anak dan suami tercinta secara senseless ini adalah kenyataan bahwa pemerintah setempat ternyata tahu dan sengaja melindungi keberadaan IG ini.  Tapi penderitaan wanita malang itu belum berhenti di situ, to add insult to injury, menambah sakit hati, seorang jaksa tega- teganya menyatakan alasan mengapa mereka melindungi IG yang kriminal ini.  Menurut ibu jaksa ini, kalau IG ini dideportasi, dikhawatirkan akan kembali ke habitat lamanya dan merekrut teman- temannya dan dengan keahlian yang lebih canggih masuk Amerika lagi.
Tragedy lain terjadi bulan Mei tahun ini yang menimpa seorang anak perempuan berusia empat tahun yang meninggal akibat mobil yang ditumpanginya ditabrak mobil lain yang tidak berhenti di lampu merah.  Pengemudinya ternyata adalah IG yang SIM, atau driving license- nya (DL) disuspensi karena yang bersangkutan sudah empat kali melakukan pelanggaran yaitu mabuk saat mengemudi.  Entah bagaimana seorang IG bisa mendapatkan DL, karena sebelum melakukan tes biasanya harus menunjukkan identitas berupa ‘social security’ yang mestinya tidak dimiliki IG.  Selain itu bagi yang tinggal di Amerika secara legal pun, kalau sampai melakukan pelanggaran, menurut hukum bisa dideportasi.  Jadi tidak menunggu sampai berkali- kali sebelum akhirnya membunuh gadis cilik WN Amerika yang tidak berdosa.
Kedua kejadian tragis di atas hanya merupakan titik- titik di puncak gunung es yang sebetulnya berpotensi menjadi issue yang panas namun sebagaimana biasanya, yang memberitakan secara vocal hanya media yang cenderung konservatif.  Sedangkan media yang lain tampak enggan menyentuh masalah ini, apalagi peristiwa yang di San Francisco waktunya bertepatan dengan semakin ramainya masa kampanye pemilu. 
San Francisco memang merupakan salah satu di antara ‘sanctuary cities’ di Amerika yaitu kota yang memberi perlindungan kepada IG.  Di kota- kota tersebut para petugas disarankan untuk memalingkan muka saja saat menemukan indikasi adanya IG.  Kota yang cantik dekat teluk San Francisco ini memang memiliki tradisi panjang dengan ideology liberal.
Bagi KoKiers yang suka menggali lagu- lagu lama mungkin ingat lagu “San Francisco”- nya Scott McKenzie yang dirilis di tahun 60- an saat hippies menjadi fenomena di kota yang merupakan sorga bagi kelompok yang mengumandangkan peace sekaligus royal dengan free love, free sex dan drugs ini.  Sementara gay dan lesbian juga sudah lama menjadikannya sebagai tempat tinggal yang ideal bagi life style mereka.  Sehingga argument ibu jaksa yang untuk sebagian orang mungkin membuat perut mulas, kelihatannya hal normal di sana.
Di Amerika, jumlah Hispanic sudah cukup untuk bisa mempengaruhi peta politik, sehingga para politisi berhati- hati kalau menyakut kepentingan kelompok ini.   Sebagaimana disebutkan di awal tulisan, mereka tidak sabar untuk menagih janji presiden Obama.  Bahkan pencalonan jaksa Sonia Sotomayor oleh Obama untuk supreme court tidak meredam tuntutan mereka meskipun mereka antusias menyambut pencalonan jaksa pertama dari kelompok Hispanic ini.
Para pemimpin komunitas Hispanic yang tergabung dalam beberapa organisasi dengan blak- blakan mengatakan, kalau Obama tidak menepati janji mereka tidak ragu pindah ke lain hati.  Maksudnya di pemilu mendatang akan berpaling ke partai oposisi yang bisa merupakan ancaman karena dalam pemilu yang lalu, vote kelompok Hispanic cukup berpengaruh pada kemenangan Obama, capres dari partai Demokrat.
Waktu kampanye di depan tokoh- tokoh Hispanic, Mr. Obama memang menjanjikan reformasi bahkan sampai mengutuk para petugas yang menggrebeg IG.  Ucapan Mr Obama tersebut disambut kecaman dari Lou Dobbs, seorang host acara di CNN yang menyatakan bahwa mengutuk abdi negara yang sedang melaksanakan tugasnya merupakan hal yang kurang pantas keluar dari seorang capres.
Dengan situasi ekonomi Amerika yang masih sulit saat ini dimana tingkat pengangguran mencapai 9.5% dan diperkirakan masih akan bertambah, pihak yang tidak setuju berargumen bahwa pemberian amnesty bagi IG akan sangat memberatkan.  Dan yang lebih penting, secara prinsip merupakan precedent buruk karena IG yang merupakan pelanggar hukum justru mendapat reward, hal yang bisa mengutik rasa keadilan terutama bagi mereka yang istilahnya berjuang sampai berdarah- darah untuk bisa masuk Amerika secara legal.
Sebetulnya amnesty untuk IG pernah diberikan kalau tidak salah saat pemerintahan presiden Reagan yang terbukti tidak menyelesaikan masalah.  Sebab kenyataannya setelah itu Amerika tetap dibanjiri IG karena gagalnya pengamanan perbatasan dan enforcement aturan imigrasi.



Solidaritas di antara sesama etnis merupakan hal yang instinctive, bisa terjadi pada etnis mana saja seperti India yang juga cepat pertumbuhannya. Tapi solidaritas di antara Hispanic dinilai berlebihan, seperti kalau sedang rally/ demo, tidak jarang mereka melambai- lambaikan bendera negara asalnya, yang memberi kesan sebagai bangsa yang bangga tapi kurang sekali pengetahuan civic- nya.   Kalau di Indonesia hal ini bisa- bisa dianggap sebagai tindakan subversif.  Sementara di Amerika tidak seorangpun berani menggugat, jadi siapa bilang Amerika senang mem- bully hayo, haha.  Biasanya kelompok konservatif yang bisik- bisik sinis, sedangkan liberal pura- pura tidak tahu.
Sikap sebagian orang kulit putih yang umumnya berpaham liberal yang entah didasari guilt (rasa bersalah) yang memberi empati berlebihan kepada kaum minoritas, tampaknya justru bisa memperumit situasi di masyarakat multi ras ini.  Seperti argument ibu jaksa dalam tragedy di San Francisco dimana demi empati kepada pihak yang dia anggap terpinggirkan atau victim (korban) berbuah petaka bagi warga yang tidak berdosa.
Namun sikap semacam ini kelihatannya makin menjadi hal yang dianggap benar secara politis (politically correct) meskipun ukuran yang didasarkan pada ideology politik bukan baku, tergantung dari siapa dan bagaimana memandangnya.  Padahal perlakuan yang berbeda, lepas dari apapun motifnya, bisa mengikis prinsip equality atau kesetaraan yang dijunjung tinggi di Amerika.
Contohnya kasus yang sedang hangat saat ini yang terjadi di fire department (dinas pemadam kebakaran) di suatu kota di Connecticut, negara bagian yang terletak di timur laut Amerika.  Dalam rangka promosi jabatan, dinas tersebut mengadakan ujian bagi para anggotanya (firefighters).  Hasilnya limabelas orang firefighters mendapatkan nilai tinggi untuk bisa dipromosikan.
Karena dari jumlah tersebut tidak ada satupun yang berkulit hitam, pemerintah kota memutuskan untuk membatalkan hasil ujian.  Alasannya kalau promosi hanya didasarkan pada nilai ujian, anggota kulit hitam tidak ada yang bisa dipromosikan sehingga distribusinya tidak merata.  Kelimabelas fire fighters yang terdiri dari empatbelas kulit putih dan seorang Hispanic yang merasa didiskriminasi tidak menerima keputuan tersebut dan membawanya ke pengadilan.  Pengadilan ternyata menolak untuk meninjau kasus ini namun mereka tidak menyerah dan membawanya ke pengadilan lebih tinggi yang sekarang prosesnya sedang berlangsung.
Padahal di Amerika, seperti pernah ditulis oleh KoKiers yang lain, untuk melamar pekerjaan pelamar tidak harus mencantumkan data- data tertentu yang bisa dijadikan senjata untuk mendiskriminasi, misalnya ras/ etnik, umur, foto dsb .  Diskriminasi yang menguntungkan anggota kulit hitam di atas secara tidak sengaja menghidupkan stigma lama yang menganggap African American (kulit hitam) kurang capable hingga perlu dikatrol, tindakan yang sebetulnya meremehkan.
Nuansa tersebut juga terasa saat kampanye pemilu tahun lalu.  Di bulan Oktober waktu kampanye sedang marak- maraknya, orang Amerika juga merayakan Halloween dimana seorang pemilik rumah di California memasang effigy yaitu boneka mirip sosok seseorang yang digantung di lehernya dan dipasang dekat chimney (cerobong asap).  Sosok tersebut adalah capres dan wakilnya dari partai Republikan yaitu John McCain dan Sarah Palin.  “Hahaha, cute, funny,” demikian reaksi sebagian orang yang melihatnya.  Tapi waktu ada orang lain yang memasang effigy Obama, “Whooo you can not do thaaat”, protes yang tidak hanya datang dari masyarakat, tapi polisipun sampai turun tangan menyuruh untuk menurunkan effigy tersebut karena menggantung Obama politically incorrect (secara politis tidak benar).
Agak ironis mengingat Mr. Obama sudah mendapat mandate begitu besar dengan pencalonannya untuk memimpin bangsa Amerika.  Dengan sikap tersebut seakan orang menganggap dia masih perlu nanny atau babysitter untuk melindunginya dari orang- orang yang ingin mencoelnya atau menghalau nyamuk- nyamuk yang akan menggigitnya.  
Racial profiling dan driving while blacks.  Di lain pihak merupakan fakta bahwa minoritas kulit hitam banyak menjadi target ‘racial profiling’ yaitu polisi mem- profile, mendasarkan kecurigaannya (pada berbagai kasus pelanggaran) semata karena ras- nya atau dengan kata lain stereotyping.  Waktu tulisan ini hampir selesai, kebetulan ada peristiwa yang berkaitan dengan hal tersebut yang menjadi berita nasional karena melibatkan seorang professor dari Harvard bernama Henry Louis Gates Jr dimana presiden sempat ikut komentar.
Kejadiannya berawal dari kesalah- pahaman dimana polisi datang ke rumah prof karena ada laporan rumah tersebut dicongkel orang.  Padahal sebenarnya pemiliknya sendiri pelakunya gara- gara waktu pulang dari bepergian dia mendapat kesulitan dengan kunci rumahnya.  Singkatnya terjadi konfrontasi yang mana menurut versi polisi sang prof bertindak disorderly yaitu melawan instruksi polisi serta mengeluarkan kata- kata yang tidak semestinya.  Di Amerika hal ini bisa mengakibatkan penangkapan dimana dia sempat diborgol tangannya yang kemudian dibebaskan dari segala tuduhan.  Sedangkan menurut prof dan orang- orang yang simpati kepadanya polisi melakukan racial profiling dan menuduh bahwa peristiwa tersebut tidak akan terjadi seandainya prof ini berkulit putih.
Ada sebagian orang kulit hitam kelihatannya tidak buru- buru menganggap kejadian ini dilandasi unsur rasial, suatu langkah maju?  Di antaranya Mr. Bill Cosby, actor kulit hitam yang di Indonesia akrab dikenal lewat serial “The Cosby Show” yang tidak setuju dengan komentar presiden Obama.  Presiden mengatakan si polisi yang berkulit putih ini bertindak bodoh (acted stupidly) yang terkesan memihak karena fakta- faktanya belum lengkap.  Besoknya presiden memberi komentar susulan yang pada dasarnya mengoreksi komentar sebelumnya.  
Waktu sedang berkendaraan, African American juga sering menjadi object  penyetopan oleh polisi atas kecurigaan membawa drugs, senjata maupun tindak criminal lainnya sehingga di Amerika ada kata- kata plesetan ‘driving while blacks’.  Banyak comedian yang mengangkat masalah ini sebagai materi guyonannya di antaranya seorang comedian kulit hitam bernama Chris Rock yang mengatakan bahwa kalau salah seorang bro (brother, panggilan sesama mereka) mau menumpang mobilnya, hal pertama yang dilakukannya adalah menggeledah untuk memastikan si bro tidak membawa senjata maupun drug.  Ucapan Chris Rock mengindikasikan bahwa pelanggaran semacam ini sering dilakukan kelompok ini.  Namun profiling yang serampangan telah sering mengakibatkan kesengsaraan bagi orang- orang kulit hitam yang tidak bersalah.
Tuduhan racist terutama bagi orang kulit putih juga merupakan hal yang sangat ditakuti di Amerika sehingga mereka kurang berani menyuarakan hal- hal yang mestinya perlu dikoreksi.  Salah satu contoh, di daerah kami, banyak iklan lowongan pekerjaan yang menyebutkan bahwa pelamar yang bilingual lebih disukai.  Maksudnya selain bahasa Inggris juga mampu berbahasa Spanyol.  Iklan yang diskriminatif dan berlawanan dengan prinsip equality ini secara diam- diam menyusup tanpa adanya perlawanan sebab yang diuntungkan adalah minoritas dalam hal ini Hispanic sehingga tidak seorangpun berani terang- terangan menyuarakan keberatan.





Di Indonesia, para bapak bangsa kita dulu jauh sebelum kemerdekaan di tangan sudah mengendus bahayanya perpecahan karena kebinekaan kita.  Sehingga beliau- beliau merumuskan konsep persatuan di antaranya satu bahasa.  Sementara di Amerika, pemerintah terkesan sangat ketakutan kalau minoritas sampai menjadi korban (victim) karena tertinggal gara- gara kendala bahasa sehingga berusaha mengakomodasi yang terkesan berlebihan.  Padahal pada prakteknya tidak mungkin untuk mengakomodasi setiap kelompok minoritas, akibatnya justru menimbulkan diskriminasi yang menguntungkan kelompok tertentu dalam hal ini Hispanic yang merupakan mayoritas di antara minoritas.
Banyak di antara mereka yang sudah puluhan tahun di Amerika namun kemampuan bahasa Inggrisnya sangat minim, tapi mereka survive karena kemanapun selalu terakomodasi seperti di RS, praktek dokter, kantor lawyer, toko dsb.  Itulah sebabnya banyak iklan yang mensyaratkan bilingual.  Saya ingat jaman dulu waktu mau tes tertulis untuk mendapatkan SIM juga ditanya bahasa apa yang langsung saya jawab Inggris.  Pertama karena saya berpikir itu yang benar, dan juga tidak mau bertele- tele, toh seperti dugaan saya mereka tidak punya yang bahasa Indonesia.
Di antara mereka yang merasa mendapatkan privilege karena menempatkan diri sebagai victim ini tidak jarang bersikap seperti di atas angin.
Seorang kenalan, wanita Jerman yang bersuamikan pria Amerika pernah jengkel karena beberapa orang Hispanic di kantornya mengecamnya karena dia tidak mau belajar bahasa Spanyol.  Untung wanita ini bisa memberi jawaban yang telak.  Hal ini juga sering diparodikan seperti dalam salah satu serial sitcom yang menggambarkan seorang imigran dari Honduras mau dipecat dari pekerjaannya karena sering tidak masuk.  Si Honduran dengan PD menjawab “You can not fire me because I’m a Honduran”.  Tapi si employer yang tidak kalah PD- nya menjawab “No you are nooooot, you’re just mister ‘don’t come to work alias mbolosan’ “.
Ada suatu fenomena yang cukup menarik pada sebagian imigran yang di negaranya sendiri sangat sengsara, ditekan sana- sini, diberangus kebebasannya, dijegal usahanya.  Tapi anehnya sampai di Amerika mereka melakukan hal- hal yang dalam seribu tahunpun takkan termimpi berani dilakukan di negara asalnya.  Karena mereka tahu celah- celah memanfaatkan kelembutan hati paman Sam yang cepat meleleh sehingga tidak segan- segan menghisap dan menghisap.
Rupanya pepatah ‘dimana kita tinggal disitu langit dijunjung’ tidak selalu menjadi pegangan setiap imigran.   Padahal menghormati negara barunya juga berarti menghargai diri sendiri sekaligus menjaga nama baik negara asal, dimana kita menunjukkan bahwa kita berasal dari bangsa yang punya manners dan dignity yang tidak hanya bisa mengambil tapi juga memberi.  
Tapi sejauh ini yang merupakan top- nya adalah adalah usulan agar National Anthem/ lagu kebangsaan Amerika secara resmi juga dinyanyikan dalam bahasa Spanyol.  “Daaaamn, ..”  maaf ini hanya menirukan respon sobat saya waktu mendengar berita ini, yang mengemuka sekitar awal 2000- an.  Sementara tidak kurang orang- orang Amerika biasanya liberal, yang simpati dengan alasan Hispanic juga punya hak untuk menghayati lagu kebangsaan dalam bahasa yang mereka pahami (equality baby equality heheheh).  Akankah langit Amerika meriah oleh gaung national anthem dalam berbagai bahasa, Cina, India, Arab, Korea, dll?.  Tapi sampai sekarang hal tersebut belum ada kelanjutannya. 



Untuk menutup tulisan ini, berikut kutipan hikayat di Texas yang bermula saat Texas memenangkan perang melawan Mexico untuk melepaskan diri dari negeri di selatan ini (dulu Texas merupakan bagian dari Mexico).  Jendral Santa Ana, pemimpin pasukan Mexico yang rupanya tidak bisa menerima kekalahan itu mengutuk dan sesumbar bahwa suatu hari kelak Mexico akan mengalahkan Texas (yang kemudian bergabung dengan Union yaitu Amerika).  Hanya, tidak dengan bedil alias peperangan bersenjata melainkan melalui kamar tidur. 
Kutukan sang jendral sudah lama menjadi kenyataan, tidak hanya di Texas, tapi juga bagian- bagian lain di Amerika.

Sikap Ksatria Dari Toyota

Ryu & Yuka-chan no mama

 


Dear Zev, AsMod dan KoKiers,

Kasus Toyota yang mencuat di berbagai mass media di dunia akhirnya mencapai puncaknya dengan penampilan langsung dari orang nomor satu Toyota Motor Corporation, Toyoda Akio ( 53 tahun ) di depan Kongres AS pada tanggal 24 Februari 2010. Penulis yang kebetulan tinggal di negeri Sakura ikut merasakan adanya aura rakyat Jepang yang antusias untuk mengikuti jalannya sidang selama 3 jam.


Toyoda Akio ( 53 tahun ) adalah cucu dari pendiri Toyota. Toyoda Akio secara " ksatria " datang ke negeri paman Sam ( AS ) untuk bersaksi dan menjawab pertanyaan dari anggota parklemen AS. Lepas dari permasalahan yang dihadapi oleh Toyota, sikap yang ditunjukkan oleh orang nomor satu Toyota adalah sikap yang mengundang decak kagum, salut dan homat.

Penulis bukanlah orang yang bermaksud memuji Toyoda Akio secara berlebihan akan tetapi marilah kita secara fair melihat bahwa sikap yang ditampilkan oleh Toyoda Akio sedikit banyak memang sangat luar biasa. Toyoda Akio dengan sikap ksatria datang untuk mempertanggungjawabkan perusahaannya yang bermasalah. Dia berani datang untuk mempertanggungjawabkan kesalahan perusahaannya, berani untuk menerima kritikan yang menjatuhkan mental dan tidak berusaha mencari kambing hitam.

Toyoda Akio secara tegas menyatakan penyesalan yang mendalam ( di berbagai mass media Jepang dan TV, berulang kali di katakan " deeply sorry " ) atas kasus yang memakan korban kecelakaan. Dia tidak lari dari tanggung jawabnya sebagai orang nomor satu Toyota. Inilah salah satu sikap yang membuat publik dunia salut bahkan penulis pun acungkan jempol buat Toyoda Akio. Memang begitulah seharusnya sebagai orang yang bertanggungjawab.



Bandingkan dengan sikap sombong nan angkuh para CEO 3 pabrik mobil terbesar di Amerika Serikat ( GM, Ford dan Chrysler ). Bulan November 2008, ketiga CEO yang angkuh datang ke hadapan Kongres hanya untuk mengemis dana talangan ( bail out ). Sikap dari para CEO sungguh jauh berbeda dengan Toyoda Akio yang santun. Apakah pantas datang ke Kongres dengan menyewa jet swasta khusus ( dari Detroit menuju Washington DC )? Yang namanya mengemis minta dana talangan ( bail out ), artinya 3 perusahaan sudah tidak punya kemampuan ( alias nyaris sekarat dan butuh bantuan dana ) untuk survive bukan? Bagaimana mungkin masih bisa menyewa jet khusus? Sungguh sikap yang menimbulkan rasa antipati padahal pada saat itu ada ribuan karyawan yang sedang proses PHK bukan? ( sumber: TV Tokyo).

Permasalahan yang dihadapi Toyota

Masalah recall ( penarikan ) produk Toyota memang mengoncangkan dunia bahkan rakyat Jepang sendiripun malu. Masalah ini semakin menjadi-jadi setelah adanya rekaman telepon darurat dari keluarga almarhum. Keluarga ini mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan, dimana 4 nyawa melayang. Kecelakaan yang fatal, menewaskan semua penumpang sekaligus pengemudi yaitu, Saylor ( 45 tahun ), Cleofe, istri dari Saylor ( 45 tahun ), Mahala ( 13 tahun ) dan Chris Lastrella ( 38 tahun ). Ke-4 orang ini terdiri dari sepasang suami isteri, anak perempuan dan adik dari pihak isteri. Pada saat kejadian, keluarga naas ini berada dalam mobil Lexus ( produk Toyota). Lokasi kejadian kecelakaan berada di jalan tol ( highway ) wilayah California - USA.

Adapun hasil rekaman maut adalah sebagai berikut :
" Kami di dalam Lexus dan kami sedang mengarah ke arah utara dengan kecepatan 125 km/ jam dan kami sungguh dalam masalah......pedal gas macet...rem tidak berfungsi...kami sedang mendekati perempatan....tahan...tahan dan hanya berdoa...oh God " ( sesaat kemudian putus hubungan ). Itulah percakapan terakhir dari keluarga korban kecelakaan, sungguh menyedihkan. Bagaimanapun rasa kehilangan anggota keluarga secara tragis memang tidak akan tergantikan.

Akibat kasus recall Toyota yang mencuat pesat, tercatat lebih dari 1,09 juta mobil Toyota di Amerika Serikat dan Eropa terkena recall ( pemanggilan kembali ). Recall dilakukan di dealer terdekat untuk memperbaiki pedal gas. Konon, pedal gas bermasalah karena pedal gas menyangkut di karpet yang tidak menempel secara benar di lantai mobil. Ada 5 model yang harus menghadapi recall yaitu, Highlender produksi 2008 - 2010, Corolla 2009 - 2010, Venza 2009 - 2010, Matrik 2009 - 2010 dan Pontiac Vibe 2009 - 2010. Sumber mengenai 5 model produk Toyota dikeluarkan oleh regulator federal.




Kasus Toyota ini pun membikin Menteri Transportasi Jepang, Seiji Maehara turun tangan sekaligus menepis prasangka buruk bahwa produk mobil Jepang diragukan kualitasnya. Sungguh momen yang tepat. Langkah yang ditempuh Seiji Maehara perlu dilakukan agar problem Toyota tidak menyeret perusahaan -perusahaan Jepang lain di luar negeri ataupun produk Jepang.

Penulis pun menemukan fakta bahwa sebenarnya recall adalah hal yang biasa dalam industri otomotif. Menurut Nikkei Shimbun ( koran bisnis Jepang ), mobil-mobil buatan paman Sam pun berulangkali menghadapi masalah recall. Bulan Oktober 2009, Ford menyelesaikan kasus recall yang melibatkan 14 juta mobil ( lebih besar jumlahnya dari Toyota bukan? ). Masalah yang dihadapi adalah kurang sempurnanya cruise control. Begitu pula dengan pihak GM ( General Motors ) melakukan recall sekitar 850.000 mobil akibat masalah wiper ( penghapus air ) di kaca depan. Desember 2007, Chrysler pun melakukan recall terhadap 575.000 mobil karena kurang sempurnanya gigi perseneling.
Honda melakukan recall dibulan Februari 2010 karena Airbag model Inflator Dual Igniter yang bermasalah dan juga masalah power window system. VW pun di bulan Februari 2010 menarik 200.000 mobil model Novo Gol dan Novo Voyage di Brazil karena masalah bearing roda belakang yang sering kurang pelumas. Bahkan Peugeot Citroen me-recall 97.000 mobil di Eropa untuk model peugeot 107 dan Citroen C1 karena masalah pedal gas. Dan masih ada banyak lagi kasus recall mobil di dunia ini.

 


Pihak -pihak yang berkepentingan dengan kasus Toyota

Memang tidak dapat di pungkiri bahwa Toyota benar bermasalah dengan pedal gas yang memakan korban jiwa dalam kecelakaan ( total 34 korban jiwa ), akan tetapi siapakah pihak yang sengaja memblow-up kasus Toyota dan yang paling diuntungkan? Banyak kalangan rakyat Jepang yakin pemerintah USA ada dibalik semuanya. Tujuannya hanya satu yaitu proteksionisme terhadap perusahaan asing di USA.

Hanya kebetulan Toyota bermasalah dan diperberat dengan ditemukannya rekaman terakhir keluarga korban kecelakaan itulah maka GM, Ford dan Chrysler berusaha menjatuhkan reputasi Toyota di USA. Jangan lupa November tahun 2008, GM, Ford, dan Chrysler mengemis dana talangan ( bail out ) kepada pemerintah AS. KoKiers, ada dugaan bahwa politik bisnis pemerintahan AS turut bermain dalam recall Toyota karena mereka pun ingin menggeser kedudukan Toyota yang sudah merajai pasar mobil di USA bukan?

Dugaan semakin kuat bahwa bukan sekedar recall produk Toyota dan pedal gas. Besar kemungkinan bahwa ada udang di balik batu dengan cara-cara " kurang elegan " untuk menjatuhkan Toyota. Hal ini sudah bukan hanya menyangkut Toyota akan tetapi berlatar belakang politik antar kedua negara yaitu USA dan Jepang.

Pemerintah USA hanya ingin mendorong kenaikan pemasaran mobil buatan USA yang pernah menjadi " tuan rumah " di USA hingga dekade 1970-an. Itulah sebabnya, kasus Toyota di blow-up oleh pihak -pihak yang berkepentingan. Terbukti dikala kasus recall Toyota mecuat, pihak GM ( saingan Toyota ) segera melakukan perang urat syaraf untuk menjelek-jelekkan produk Toyota, akan tetapi ternyata usaha GM tetap tidak bikin rakyat USA berpindah untuk membeli produk GM bukan?

Toyota yang didirikan pada bulan September 1933. Pendiri Toyota yang legendaris adalah Kiichiro Toyoda. Motto Toyota yang terkenal adalah " customer first ", menjunjung tinggi kualitas dan pelayanan yang prima terhadap produknya. Memang bukan pekerjaan mudah buat Toyota untuk memulihkan nama baiknya akibat kasus recall, akan tetapi penulis masih yakin 100% bahwa Toyota akan menangani permasalahannya dengan baik. Ganbatte kudasai.

Akhir kata, kasus recall Toyota beserta " bumbu-bumbu penyedapnya " adalah suatu hal yang sering terjadi di dunia bukan? Resiko bisnis yang mungkin bisa saja menimpa setiap perusahaan bahkan perusahaan sekaliber dunia sekalipun. Tiba- tiba saya teringat salah satu pepatah, " Lebih baik kalah secara jantan ( gentle ) daripada menang secara keji ". Pelajaran yang berharga buat Toyota dan juga pihak -pihak yang berkepentingan untuk menjatuhkan Toyota.




Terimakasih buat semuanya yang telah membaca dan menuliskan komentar.

Salam hangat dari Jepang,
Ryu & Yuka-chan no mama


Referensi :
  •  http://otomotif.kompas.com/read/xml/2010/01/28/11180619/toyota.recall.lagi..109.juta.dan.hentikan.produksi.8.modelnya
  • http://news24.jp/articles/2010/02/26/10154269.html
  •  http://pressroom.toyota.com/pr/tms/toyota/toyota-consumer-safety-advisory-102572.aspx
  •  http://www.chunichi.co.jp/article/car/news/CK2010022602000155.html
  • http://www.newsinferno.com/archives/13683